BISIKAN LIRIH TERAKHIRMU


Sumber Poto Pribadi : 
Peristirahatan Terakhirmu

 Sumber Poto Pribadi

Sumber Poto Pribadi.

Tema : Merahku Mendulang Asa 
Selasa, 7 April 2020

Saat keberangkatan ke Jakarta adalah momentum pertama bertemu denganmu dalam sebuah kegiatan menulis  yang difasilitasi oleh sagusaku IGI. Perawakanmu yang tambun dan desah napasmu yang kencang tak bisa kau sembunyikan dari balik dirimu.

Aku masih ingat saat senyuman khas mu menyapaku.

"Oooo ini BHP tu!" ucapmu saat itu. Kau sodorkan tanganmu mengenalkan diri, "Hakim Lao," jelasmu.

Aku hanya tersenyum tanpa banyak berkata, pikiranku dibawa mengingat sebuah cerita dari negeri tirai bambu tentang seorang hakim. "Justice Bao" kisah yang dulu pernah tersohor di pertelevisian swasta kala itu. Ku tatap lama wajahmu, ada kemiripan berwajah chinese apalagi di ujung namamu menggunakan Lao.

Saat itu pun, ada seorang sahabat duduk di sebelah mu. Seorang lelaki bertubuh kurus tinggi dengan karakter suara khasnya yang langsung membuat kita, satu dan lainnya bisa berbaur dengan cepat. Cerita mengalir dengan cepat seakan kita sudah kenal lama.

Perkenalan itu pun menjadi salah satu momentum yang tak bisa ku lupakan tentang mu.  Apa pagi tentang 'travel bag' berwarna pink saat kita bertemu.

"Wajah brewok, hati hello kitty," celotehku saat melihat penampilanmu yang unik.

"Wooow... cantik, kamu cantik sekali," ujar Bunda Yuli tiba-tiba meramaikan suasana.

Seketika kita semua tertawa tanpa sedikitpun terusik dengan candaan yang dilontarkan. Semua mengalir saja. Sifatmu yang dewasa menunjukkan kau layak dijadikan contoh dalam berteman. Ide-ide yang kau ungkapkan pun sangat brilian. Sehingga kita sering berdiskusi bagaimana semua keinginan dan impian kita bisa tercapai untuk menggerakkan IGI.

Tidak habis di situ, kau mengungkapkan kekecewaanmu dengan salah satu penerbit terhadap hasil cetak buku yang telah kau terbitkan. Dari sinilah semua bermula dan akhirnya, aku mengusulkan membuat penerbit. Usul itu pun langsung dieksekusi saat acara delaying I Solo, Februari 2018.

Kedekatan itu terus terangkai dengan indah bersamamu. Sehingga aku, istri, dan anakku memiliki kesempatan untuk bisa bertemu saat itu menyempatkan pulang via Pekanbaru di bulan ramadhan. Keluarga kecilku pun menginap di rumahmu.

"Sayang... yank, ambilkan piring buat BHP dan Nike." ucapmu saat itu.

Sayang sebagai sapaan lembut yang kau ucapkan kepada istrimu. Romantismu tidak dibuat-buat, aku bisa merasakan bagaimana sikap dan lisan lembutmu dengan istri. Sehingga wajar saja kumpulan puisi yang berjudul "Romantisme Di balik Kabut" tercipta dari jiwa dan hatimu yang melankolis.

Aku hanya tersenyum, sementara istriku langsung menimpali ucapanmu.

"Bah... coba seperti Pak Hakim, romantis dengan istrinya," ucap istriku. Aku hanya diam dan tersenyum.

Mengenalmu tidak satu, dua tahun saja. Tetapi ternyata kita memiliki kesamaan dalam hal ketertarikan. Sama-sama suka nonton film di bioskop. Selalu kita sempatkan, jika bertemu  dan nonton film-film terbaru. Ini semua benar-benar membuat kita ada kecocokan. Tidak hanya di organisasi tetapi dalam banyak hal.

Lucunya lagi, aku suka masak sementara dirimu suka makan. Sehingga pelatihan di Padang untuk kedua kalinya masakanku dinikmati olehmu  dan teman lainnya dalam pelatihan tersebut.

"BHP, aku minta maaf ya. Jika malam mu akan terganggu dengan selingan musik yang tak kau sukai," ucapmu saat itu.

Aku pun sudah mafhum dengan itu. Meskipun aku, orang yang mudah terbangun mendengar sesuatu. Tetapi itu jadi makanan setiap malam. Tidak sekali dua kali denganmu. Justru itulah saat diposisikan sebagai sahabat harus bisa menerima segala kekurangan sahabat lainnya. Aku tersenyum dengan mata mengisyaratkan tidak masalah.

*****

Komunikasi kita semakin intensif ketika satu guru satu buku (sagusaku) dilaksanakan di bumi melayu untuk kesekian kalinya. Peserta yang antusias untuk berkarya melalui tulisan pun kita gerakkan. Aku dan bunda Yuli menggerakkan lewat penyemangat sebagai pembicara dan desain cover, sementara kau menggerakkan dan memfasilitasi guru-guru dengan penerbitmu "maghfirah maharani".

Karya guru-guru pun bermunculan bak cendawan di musim dingin. Bukan satu, dua, tetapi ratusan karya itu pun menghiasi perbukuan Indonesia.

Tidak hanya itu, kita juga menggerakkan guru yang memiliki kualitas, kredibilitas, dan kapabilitas dalam keilmuannya. Masih teringat  kita bertiga berbicara bagaimana Riau menjadi sentral dalam master stem. Sehingga terciptalah konsep "serumaster stem IGI" yang launching acara di bulan november 2019, dan desember langsung go internasional ke negeri tetangga.

Kala itu, aku tak bisa membersamaimu pada kegiatan tersebut, karena ada yang harus aku lakukan. November 2019 itulah juga hari terakhir kita bertemu saat serumaster STEM dilaksanakan di LPMP Riau.

Akhir Desember 2019 karena ada pengunduran dirimu umroh, kau menelponku meminta maaf karena ingin melaksanakan umroh di bulan Januari 2020. Aku pun menyampaikan selesaikan semua urusan terkait dengan buku-buku yang akan diterbitkan sebelum berangkat.

*****

Pasca umroh itulah aku mendengar kau jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit (RS), tetapi aku belum bisa menjengukmu karena kondisi dan jarak yang membutuhkan waktu sekitar 7 s.d 8 jam perjalanan. Aku hanya berdoa semoga Allah memberikan kesehatan dan mengangkat penyakitmu.

Namun perkembangan fisikmu semakin mengkhawatirkan dan sangat jauh dari biasanya. Aku hanya bisa melihat dari poto-poto yang diposting oleh para sahabat di group. Sampai kau membutuhkan darah 14 kantong untuk menyambung hidupmu.

Aku tidak mau mengganggu dan hanya banyak bertanya dengan istrimu. Saat itulah aku paksakan untuk telpon dan mendengarkan penjelasan dari istrimu terkait perkembangan fisik dan kesehatanmu. Saat itu juga suaramu ku dengar di telpon.

"BHP, kau Kesinilah," ucapmu lirih, "BHP, abang mengharapkanmu ke sini segera!" Ucap istrimu.

Saat itu hatiku langsung berdesir, seakan inilah kata terakhir yang ingin kau ucapkan denganku. Aku menguatkanmu melalui percakapan dengan istrimu. Aku pun tidak membiarkan kondisi itu berlalu begitu saja.

"Kak, sampaikan maafku dengan abang. Insya Allah, akan ku usahakan ke Pekanbaru," kataku pelan menyimpan rasa sedih sehingga air mataku pun bersamaan tumpah.

Pasca itu, aku berupaya mempersiapkan untuk bisa ke Pekanbaru. Tetapi belum juga bisa, karena masih ada tugasku sebagai moderator di diskusi online, sehingga aku berpikiran pasca diskusi malam ini aku akan ke Pekanbaru, paling lambat minggu tekadku. Pikiranku selalu teringat tentang mu, tak mudah mengabaikan rasa ini sebagaimana dulu pengalaman orang-orang yang aku cintai pergi.

Pagi Sabtu, saat ku disibukkan dengan tulisan wanita-wanita inspiratif, kabar duka pun menghampiriku. Innalillahi wa inna ilaihirajiun... ucapan belasungkawa memenuhi group-group wa yang aku ikuti. Tanpa pikir panjang, aku pun ingin memastikan kabar duka tersebut. Yang terpikir saat itu hanya Bunda Yuli. Ya Bunda Yuli yang aku hubungi.

Beberapa panggilanku tidak dijawabnya. Aku diam dan tidak bisa tenang memikirkan. Air mataku tumpah membasahi wajah yang belum sedikitpun ada polesan. Mataku pun sembab tak mampu menahan sesak di dada yang terus mendesakku.

Penyesalan pun menghampiri dan memposisikan ku sebagai seorang tersangka dalam tindakan kriminal. Duh, perih hati ini saat keinginan pun tidak tercapai, dan penyesalan itu pun tak mampu aku tutupi sedikitpun.

Panggilan telepon berdering kembali. Kulihat Bunda Yuli telpon. Tanpa pikir panjang aku langsung mengangkatnya.

"Assalamualaikum Bunda," ucapku singkat menahan suara tangis yang tak mampu disembunyikan, "Benar Bun, Pak Hakim sudah pergi," tanyaku meminta keyakinan dari informasi yang disebar di beberapa wa. Ku dengar suara lirih di sana, menahan tangis dengan suara seraknya,

"Waalaikumsalam P. Ia...," tanpa melanjutkan penjelasan. Terdiam dan suara hening pun meliputi saat itu. Hanya tangisan akhirnya yang menyatu dan pecah menghiasi komunikasi tersebut.

"Aku menyesal Bun... Di hari terakhirnya memintaku untuk bisa bertemu. Saat itu suara lirihnya kudengar dari balik telpon istrinya," aku diam tak melanjutkan penjelasan. Sesak di dada memenuhi seluruh rongga dalam tubuhku.

"Allah berkehendak lain padanya. Ini jalan terbaik yang Allah inginkan pada sosok laki-laki baik yang pernah kita kenal," ucap Bunda Yuli menguatkanku, "Do'akan saja beliau, ini bukan kesalahan dan kehendak kita, yang penting sudah ada niat untuk bertemu dengannya," kembali mengutkanku.

"Terima kasih Bunda... , assalamualaikum," ku tutup telpon. Aku pun mempersiapkan keberangkatan ke Pekanbaru meskipun penyesalanku belum usai dan terlepas dari rasa sesalnya di dadaku yang masih meliputi.

Rasa yang sama ini pun terulang kembali saat orang-orang yang aku cintai pergi, bahkan hanya pusara tempat peristirahatannya yang bisa aku temui. Kakak, abangku yang dulu terlebih pergi mengingatkan kondisi ini kembali.

****

Sesampai di Pekanbaru, aku langsung menuju pemakaman terakhirmu. Langkahku terhenti saat melihat gerbang pemakaman yang kokoh berdiri tegak. Langit dalam pandanganku tiba-tiba gelap. Air mata tumpah, tak mampu mehan sesak di dada yang menyeruak menahan emosi. Ada penyelasan yang belum tuntas. Ada rasa yang belum hilang saat permintaan terakhirmu terucap dengan lirih.

Ku kuatkan langkah kaki untuk menyusuri pemakaman yang berjejer dan tersusun rapi. Mataku belum mampu menangkap di mana pusaramu. Hingga beberapa kali salah. Tetapi niat dan tekadku hanya ingin bertemu, meskipun hanya pusaramu yang bisa kusentuh.

Butuh perjuangan dengan bermodalkan video pemakamanmu dan suara dari Bunda Yuli yang memandu sampai di pemakamanmu. Akhirnya pusaramu terlihat dengan bertuliskan "Hakim Lao, lahir 2 Mei 1973, wafat 4 April 2020.

Melihat pusara yang berdiri kokoh di peristirahatan terakhirmu, ada rasa bersalah. Kenapa aku tak membiarkan waktu berlalu. Padahal itu pertanda sebagaimana yang pernah aku rasakan sebelum-sebelumnya. Butiran kristal pun menghias wajah lelahku yang belum beristirahat. Tetapi menemuinya mengalahkan rasa capekku.

Ku tatap lama pusaramu, seakan masih belum percaya apa yang kulihat di hadapanku. Rasanya kita baru saja tersenyum, bercanda, tertawa menceritakan berbagai pengalaman kisah dalam kehidupan. Energimu yang besar serta dedikasi, loyalitas dan totalitas dalam dirimu terhadap suatu amanah kau jalankan dengan baik. Meski rasa sakit itu masih menyerang, tetapi semua kau lakukan dengan baik. Tatapanku semakin terbatas terhalang oleh derasnya aliran air mata yang tak bisa kutampung lagi.

Masih membekas semua di dalam memoriku, seakan ini hanya mimpi. Pusaramu bagaikan hanya gundukan kecil tempat permainan. Sesak menahan rasa yang masih membekas  tentangmu. Kau sahabat kau teman semakin menguatkanku, bahwa kau sosok yang baik.

Dalam lirih dan doaku mengiringimu. Ku hadiahkan doa dan puisi untukmu;

Kau sahabat kau teman
Begitu cepat kau pergi
Banyak rangkaian kisah bersamamu
Senyum mu, canda, dan tawamu
Menghapus lara dalam dukaku

Kau sahabat kau teman
Tidak pernah kudengar sakit
Membuatmu mengeluh dengan kondisi
Kau tetap bergerak seakan tidak ada sakit

Rintihmu tidak kau lihatkan
Sakitmu tidak kau sampaikan
Hanya senyum yang selalu menghias di balik wajah sangarmu
Tetapi hatimu terpancar dengan lembut

Kedewasaanmu membuatku nyaman berdiskusi
Meski kita pernah berselisih terhadap sesuatu hal
Tetapi kita tetap bisa menerima dengan baik

Jalan itu teramat pendek untukku telusuri
Belum usai aku mengenal sosok hebat seorang Hakim
Belum  tuntas aku ingin menuliskan tentang mu

Tetapi Allah selalu benar dan tepat memutuskan suatu perkara
Hanya kematian yang memutuskan semua
Tetapi tidak dengan kebaikan yang pernah kau lakukan
Amal jaryahmu sentiasa mengalir meskipun kau tiada
Ilmu yang bermanfaat kau tanamkan menjadi investasi kebaikan di akhirat
Semua janjiNya itu pasti dan tak pernah mengingkari

Sahabat... selamat jalan
Diiringi kepergiannya dengan doa yang terucap lirih
Semoga benih-benih kecil yang kau tanamkan
Menjadi penyelamatmu di yaumil akhir kelak

Selamat jalan sahabatku
Aku pun akan menyusul
Berharap banyak doa dan sahabat juga mengiringi
Sebagaimana kepergiaanmu

*****

Ku biarkan semua terkubur rasa sedih dan penyesalan di pembaringan terakhirmu, berharap Allah memberikan tempat terbaik untukmu. Ku lihat kembali dari kejauhan, tidak ada seorangpun lagi yang akan menemanimu. Air mataku pun tumpah kembali. Kesendirian yang hanya ditemani oleh amal kebaikan selama di dunia.

Ku bangun kembali asa, sebagaimana mimpi dan cita-cita yang pernah kita ungkapkan bersama. Langkah kakiku tak akan berhenti meski kau telah pergi, tetapi semangatmu masih terpatri dalam dadaku.



#TantanganSMS_SAGUSAKU_IGI


 Temu Nasional Pelatih (TNP) Di Gedung Kemdikbud 2017

Sagusaku IGI di Pekanbaru

 Sagusaku IGI di Pekanbaru

 Sagusaku IGI di Pekanbaru

 TNP 2018

 TNP 2018

 Delaying I Asramama Haji Donohudan 
Solo Jateng Feb 2018

 Satu Guru Penggerak Integritas Ikatan Guru Indonesia (Sagupegtas IGI) bekerjasama dengan KPK di Gedung KPK, April 2018

 SAGUPEGTAS IGI di Gedung KPK, April 2018
 serumaster STEM IGI
Nov 2019di LPMP Riau

 serumasterSTEM IGI


Desain Cover dan ikustrator IGI, Agustus 2018 di Bapelkes Riau 
SERUMASTERSTEM IGI

Komentar


  1. Semoga sampai doa dari ibumu ini untuk Mas Hakim (alm)

    Ya Allah, ampunilah dia,
    kasihanilah dia,
    sejahterakanlah dia, dan
    maafkanlah kesalahannya,
    muliakanlah tempat kembalinya,
    luaskan tempat tinggalnya, dan
    bersihkan dia dengan air salju dan embun.

    Ya Allah, bersihkan dia dari segala kesalahan dan dosa
    sebagaimana bersihnya pakaian putih dari segala kotoran.
    Gantilah untuknya rumah yang lebih bagus dari pada rumahnya
    keluarga yang lebih baik dari pada keluarganya
    Istri yang lebih baik dari pada istrinya

    Masukkanlah dia ke surga
    lindungilah dia dari siksa kubur dan fitnahnya
    serta lindungilah dia dari siksa api neraka

    Ya Allah, ampunilah kami orang-orang yang hidup
    yang mati, yang menyaksikan, yang ghaib, yang kecil
    yang besar, yang laki2 dan perempuan

    Ya Allah, yang menghidupkannya di anatar kami
    maka masukkanlah dia atas golongan Islam
    dan yang mematikannya di antara kami
    maka matikanlah dia dengan membawa iman.

    Ya Allah, janganlah Engkau sesatkan kami sepeninggalnya
    Dengan Rahmat-Mu
    Dzat yang Maha Pengasih
    Segala puji bagi Allah yang menguasai seisi alam

    Aamiin Yaa Rabbal'alamiin

    BalasHapus

Posting Komentar