MENULIS CERPEN DAN NOVEL


Alhamdullillah group Workshop Perlindungan Guru (WPG) Tahap III sangat aktif dalam diskusi online sejak diadakan berbagai diskusi dengan tema yang berbeda-beda. Group yang bertujuan saling berbagi dan menghebatkan ini tak pernha berhenti belajar. 

Seperti malam ini berbagi ilmu dengan narasumber yang sudah dikenal di Media Guru Indonesia (MGI) "Istiqomah, S.Pd., M.Pd" dengan mengangkat tema "Menulis Cerpen dan Novel" dengan moderator Pipit yang berasal dari peserta dikdas perlindungan guru. Berikut paparan materi dan tanya jawab diskusi online via WA.


1. PENENTUAN TEMA DAN TOPIK.
Pilih tema dan topik yang menarik. Menarik bagi penulis juga pembaca.
Sejatinya, nyaris semua tema dalam kehidupan sudah diangkat dalam film, novel, cerpen, drama, dll. Yang membedakan adalah TOPIKNYA.

Contoh:
a.       Novel Ayat-ayat Cinta, temanya adalah CINTA SEGI TIGA (POLIGAMI). Yang membedakan dengan cerita-cerita sebelum novel ini terbit adalah topiknya bahwa poligami atas persetujuan istri pertama jadi indah.
b.      Novel MENANTU UNTUK IBU (Dulu dicetak penerbit mayor 5000 eks terjual di toko cuma 3000-an, alhamdulillah saya jual online bisa terjual lebih dari itu. Novel ini mengangkat tentang anak haram. Tema anak haram, topiknya adalah anak haram menjadi baik atau tidak baik, tergantung dari masyarakat. Nah, jadi, tema itu luas. Topik mengerucut pada pandangan penulis tentang tema tersebut.

Kalau mau novel atau cerpen kita keren, kita bisa ambil tema apa saja.  Misalnya: jatuh cinta, patah hati, poligami, tetapi ambillah topik yang beda. Biasanya dengan memandang tema tersebut dari sudut pandang yang berbeda, penyelesaian cerita yang berbeda dari pandangan masyarakat umum atau ending yang tidak mudah diduga orang lain.

2.   PENULISAN NARASI DALAM CERPEN
Naskah novel, memoar, atau cerpen yang nyaris semuanya berwujud DIALOG atau sebaliknya cuma narasi. Akibatnya, ceritanya melelahkan dan tidak menarik. Karena itu, untuk tulisan model seperti ini, termasuk juga biografi, memoar, dan dongeng setidaknya harus disajikan TIGA HAL yaitu: (a) setting, (b) dialog, dan (c) tindakan.
a.       Setting
 Setting waktu, tempat, dan suasana itu penting banget.
Kita lihat contoh penggalan novel berikut:
Mari kita cermati contoh kutipan naskah berikut ini.

“Ayah, nanti pulang kantor antar bunda ke super market, ya?”
“Wah, ayah tidak bisa ada rapat.”
“Rapat apalagi?”
“Biasa rapat awal bulan.”
“Bukannya kemarin sudah rapat?” tanya istriku lagi.
“Ya namanya juga pekerjaan kantor harus hati-hati.”
“Jadi bunda sama siapa dong ke supermarket.”
“Besok saja ayah antar.”
“Harus hari ini, Ayah.  Dinda minta dibuatkan sandwich.”

Bayangkan kalau sebuah novel setebal 100 halaman, 90% nya berisi dialog seperti itu? Apa yang terjadi? Kita seperti melihat dua orang sedang berbincag-bincang di depan kita. Mungkin berdiri, mungkin duduk. Dan di ruangan itu tidak ada apa-apanya sama sekali. Kapan waktunya pun gak jelas. GARING banget!

Sekarang mari kita coba untuk menambahkan dialog di atas dengan seting tempat, setting waktu, dan setting suasana.
1)     Seting tempat yang saya tambahkan adalah: sebuah ruang makan. Ada meja makan. Ada sajian makanan. Ada AC yang dinyalakan.
2)     Seting waktunya: pagi hari, sebelum berangkat kantor.
3)     Seting suasananya: awalnya penuh kehangatan kemudian menjadi sedikit panas karena sang istri mulai curiga pada perilaku suaminya.


Naskah novel di atas.

Pagi itu, seperti biasa istriku telah menyiapkan sarapan pagi. Sepiring ayam kampung goreng, plus pecel dengan sayur daun kenikir kesukaanku benar-benar menggoda selera makanku. Istriku memang jago kalau soal makanan.

Kuambil sepiring nasi, sepotong paha ayam, dan sayur daun kenikir. Belum sempat aku memasukkan suapan pertama, Niar, istriku mulai mengajakku berbincang-bincang.
“Ayah, nanti pulang kantor antar bunda ke super market, ya?” katanya sambil menuangkan air putih  ke dalam gelas.
“Wah ayah tidak bisa ada rapat,” jawabku spontan. Kuingat kemarin aku sudah janji mau menemui Dewi. Janji yang tak mungkin kubatalkan.
“Rapat apalagi?” tanya Niar. Suaranya biasa-biasa saja. Tapi aku merasa Niar sedang menginterogasiku. Apakah dia mulai mencurigaiku?
“Biasa rapat awal bulan,” jawabku sambil mencoba menenangkan diri. Entah kenapa bumbu pecel yang biasanya terasa gurih dan legit mendadak jadi hambar. Tak seperti biasanya.
“Bukannya kemarin sudah rapat?” tanya istriku lagi.
Uhk. Aku hampir tersedak. Aku lupa kemarin saat diminta menjemput Dinda, anak bungsu kami, aku menolak dengan alasan ada rapat.
“Ya namanya juga pekerjaan kantor harus hati-hati.” Kataku sambil meneguk air putih.
Ruangan ber-AC ini mendadak jadi terasa panas. Keringat menetes dari dahiku. Kuambil selembar tisu dan kuusap.  Ssssh, aku mendesis. Berpura-pura kepedasan agar istriku tak mencurigaiku yang tiba-tiba berkeringat pagi-pagi.
“Jadi bunda sama siapa dong ke supermarket?” Tanya Niar. Kali ini ia sama sekali tak menutupi rasa kecewanya. Kulihat wajahnya tampak kesal. Bibirnya sedikit manyun. Oh, biasanya kalau sudah seperti ini aku akan langsung memeluknya. Membuatnya merasa nyaman dan lupa dengan rasa marahnya. Tapi entahlah, pagi ini aku tak ingin melakukannya. Aku malah jadi teringat wajah Dewi saat sedang merajuk. Seperti kemarin ketika aku datang terlambat menjemputnya. Ah Dewi ...., janda awal 40 tahunan itu benar-benar mampu merebut perhatianku.
“Yah ....” Suara Niar sedikit meninggi.
Aku tergagap.
“Besok saja ayah antar,” kataku segera mengambil keputusan.
“Harus hari ini, Ayah.  Dinda minta dibuatkan sandwich.”
Kali ini suara Niar benar-benar tegas. Aku tahu kalau sudah begini permintaannya tak bisa ditolak. Apalagi ini untuk kepentingan Dinda anak bungsu kami. Kesayangan kami.  Aku benar-benar bingung apa yang harus kulakukan sekarang. Tetap memenuhi janji bertemu Dewi usai pulang kantor nanti atau mengantar Niar ke supermarket.
Aku benar-benar galau.

Nah, hanya dengan menambahkan setting TEMPAT (ruang makan ditambah perabot yang ada, hidangan di meja), suasana, plus waktu, dialog-dialog yang membosankan tadi jadi seru dan membuat kita bisa membayangkan ceritanya seolah-olah jadi nyata.

Bagaimana? Beda sekali kan jadinya? Pada kutipan aslinya pembaca sama sekali tidak diberi gambaran bagaimana ruangannya, bagaimana suasananya, dan bagaimana gerakan tokoh-tokoh di dalamnya.
Bandingkan dengan sajian yang sudah saya benahi! Penambahan seting tempat, waktu, dan suasana membuat cerita menjadi hidup. Imajinasi pembaca terbawa ke sebuah ruang makan sebuah keluarga. Pembaca menjadi seolah-olah melihat adegan nyata di hadapannya.

b.     Penulisan Dialog
Penulisan dialog harus variatif dan pas.
Jangan sampai menuliskannya seperti naskah drama. Saya beberapa kali menemukan penulisan dialog dalam cerpen, novel, drama, dan memoar dengan cara yang kaku.

Contoh:
Ayah bertanya padaku, "Kapan mau berangkat?"                                                                                                   Aku pun menjawab. " Nanti sore."                                                                                                           

Jangan gitu ya nulisnya. Di balik. Penjelasan siapa yang ngomong itu LETAKKAN di belakang sehingga menjadi:

"Kapan mau berangkat? tanya ayah.                                                                                                                   "Nanti sore, Yah," jawabku singkat.

Itu dari sisi penulisannya. Selain itu, tuliskan dialog-dialog yang penting, yang memang akan sangat membantu pembaca membangun imajinasinya untuk dapat menikmati cerita. Seringkali penulis pemula terjebak untuk menuliskan dialog-dialog yang nggak penting. Dampaknya, cerita jadi membosankan. Pembaca akan merasa sangat dirugikan karena membaca hal-hal yang tak penting.

Contohnya:

“Assalamu alaikum,” seruku sambil mengetuk pintu.
“Wa alaikum salam,” terdengar suara jawaban dari dalam.
“Wah Andi. Silakan masuk,” kata nyonya rumah.
“Iya Bu,” jawabku.
“Mari masuk.”
“Terima kasih,” jawabku sambil masuk ke ruang tamu.
“Dewi ada, Bu?” tanyaku setelah duduk.
“Ada. Sebentar saya panggilkan.
’”Iya Bu,”

Bayangkan Bapak Ibu. Mau baca cerita yang cuma dialog-dialog tidak penting seperti itu?

Dialog sepanjang itu cukup diganti dengan narasi:
Dengan hati berdebar kuketuk pintu rumah Dewi. Ternyata ibunya yang membukakan pitu. Setelah mempersilakanku masuk ke ruang tamu, beliau memanggil Dewi dan membiarkanku sendirian menunggu di ruang tamu.

Nah, alih-alih menulis dialog yang membosankan, Bapak Ibu dapat menulis dengan cara yang kedua. Lalu bisa mengembangkan cerita dengan menambahkan seting tempat (keadaan ruang tamu) dan seting suasana, misal hatiku yang jadi tak karuan.

Dengan hati berdebar kuketuk pintu rumah Dewi. Ternyata ibunya yang membukakan pintu. Perempuan 40 tahunan itu dengan ramah menjawab salamku. Dengan senyum yang lembut ia memipersilakanku masuk ke ruang tamu. Kemudian ia memintaku menunggu sebentar.
"Ibu panggilkan Dewi dulu, ya Nak." Tinggallah kini aku sendirian di ruang tamu yang mewah ini. Kursi tamu yang terbuat dari kayu jati kualitas tinggi ini begitu serasi dengan perabot rumah tangga yang juga terbuat dari kayu jati. Lampu kristal yang menggantung di atas ruangan semakin mempertegas selera pemilik rumah ini. Ah, tiba-tiba aku merasa kecil sekali. Betapa jauhnya perbedaan antara ruang tamu ini dengan rumahku yang luasnya mungkin tak sampai setengahnya.

c.    Tindakan.
Seringkali penulis lupa menyertakan tindakan dalam penulisan dialog.
Ini adalah contoh dialog yang tidak disertai tindakan. Coba bayangkan, dalam kehidupan sehari-hari apa ya ada orang berdialog, berbincang-bincang tanpa tindakan sama sekali.

Apa sih tindakan itu? Tindakan itu ya apa-apa yang dilakukan oleh tokoh. Namun, tidak hanya saat narasi, dalam dialog pun seringkali HARUS kita sertakan dialog agar lebih wow.
Misal:

"Apa?" Teriaknya sambil menggebrak meja. Kami semua terdiam. Beberapa temanku malah ada yang menunduk. Kulihat kaki Santi genetar hebat. 
"Maaf," kataku sambil mengangkat telunjuk, "masalahnya kami diperintah sama nyonya," kataku sambil tetap menunduk.

Kalau hanya ditulis:
"Apa" tanyanya.
"Maaf, masalahnya kami diperintah sama nyonya,"                                                                                           
Gak seru! Pembaca gak ikut tegang. Maka, sebaiknyalah penulis membayangkan, saat seseorang berdialog seperti itu apa yang ia lakukan.

3.   PENOKOHAN.
Secara umum kita dapat menggambarkan watak tokoh sama persis dengan cara kita dalam kehidupan sehari-hari. Misal menggambarkan orang rajin. Tak cukup kita tulis:
Ali orang yang rajin.
Itu berlaku kalau dalam cerita anak

TANYA JAWAB:
1.         Sekarang lagi musim pentigrap cerpen tiga paragraph. Bagaimana sistematika pentigrap?
Permulaan paragraf pertama pentigraf dapat memakai pengenalan tokoh dan konfliknya. Anda dapat memasukkan unsur seting di situ bila perlu. Lantas, pada paragraf kedua buatlah cerita maju dengan memasukkan unsur argumen. Sedangkan sebagai penutup, tampilkan resolusi.

2.         Terkadang dalam satu paragraf dialog terdapat dua potongan dialog, apakah ini boleh?
Pada prinsipnya, satu dialog adalah satu ide pokok ketika diucapkan oleh SATU TOKOH. Ketika ganti dialog tokoh lain, ya harus ganti paragraf. Namun, seringkali, kita menulis dialog seseorang yang panjang. Agar dialog tersebut tidak membosankan maka perlu kita beri tambahan tindakan. Biar lebih dramatis.
Contoh:
"Rencananya aku akan berangkat lusa. Itu pun kalau aku dapat pinjaman uang."       Kalimat ini bisa kita buat lebih dramatis menjadi:
"Rencananya aku akan berangkat lusa." Kutarik napas panjang berharap ia akan mengerti bahwa aku sedang benar-benar bingung," Itu pun kalau aku dapat pinjaman uang."     
Rasanya jadi beda kan?

3.         Apa yg membedakan potongan dialog yang disertai keterangan setelah tanda petikan dengan yang tanpa keterangan?
Yang membedakan itu adalah DRAMATISASINYA. Jadi saat membuat dialog ini sambil dibayangkan, bagaimana kalau kita mengucapkan dalam dunia nyata. Bila memang setelah kita ngomong langsung dibalas oleh lawan bicara kita ya tidak perlu ditambahi tindakan.

4.         Bagaimana cara penulisan kalau si tokoh berbicara kemudian terhenti sejenak kemudian berbicara kembali?
Pemberian variasi tindakan atau tambahan seting dilakukan bila dalam percakapan real, itulah yang akan terjadi dan untuk alasan dramatisasi.

5.         Bagaimana cara memilih  judul untuk cover buku kumpulan cerpen apabila dalam cerpen-cerpen yg kita tulis temanya berbeda-beda?
Apabila cerpennya beda-beda, saran saya ambil saja judul cerpen terbaik. Kalau tema sama kita bisa membuat judul berdasar tema.

6.         Boleh tidak dalam dialog cerpen menggunakan bahasa daerah yang tidak baku? Misalnya "Emang gue pikirin..." atau yang lainnya?
Untuk DIALOG penggunaan bahasa daerah/asing sah-sah saja asal gak semua ya. Melelahkan pembaca. Kalau di narasi, saat menggunakan bahasa asing atau daerah baru dicetak miring.
Dialog itu harus diupayakan sesuai real. Misal, saat saya mengedit novel atau dialog yang menggunakan kata JAM:
"Aku berangkat jam 2 siang nanti."
Saya lebih memilih membiarkannya. Mengapa? Dalam kehidupan nyata, dialog sehari-hari, bukankah orang memang menggunakan kata jam, bukan pukul? Kalau suasana dialognya resmi baru orang pakai pukul.

7.         Bagaimana menggunakan ide dalam menuliskan novel sehingga ceritanya bisa bersambung dalam alur cerita?
Sejak awal pastikan bahwa setiap peristiwa akan ada hubungan sebab akibatnya. Peristiwa besar yang terjadi kemudian bisa jadi diawali hal besar. Selain itu, harus jelas hubungan peran antara tokoh dalam ceritanya.

8.         Apa langkah awal dalam penulisan novel atau cerpen? Apakah dengan menentukan tokoh dan karakter? Atau membuat alur cerita? Atau menuliskan pesan yang akan disampaikan.
Saran saya mulailah dari sesuatu yang membuat orang tertarik. Perbanyak nonton film dan baca.

9.         Jika kita akan menulis novel dengan pengalaman hidup sendiri, bagaimana dalam memilih tema dan topiknya?
Pastikan dulu, mau nulis MEMOAR, Biografi, apa novel.

10.  Bagaimana supaya tidak terkena jebakan minimal halaman?
a.  Tulis saja ide dengan mengalir semampunya. Ketika naskah sudah jadi (draft/hasil tulisan pertama), kita dapat menambahkan tindakan, seting. Cerita yang berupa dialog-dialog saja maka cerita akan cepat selesai.
b.  Kembangkan dengan pengembangan watak.
Misal:
Edi ingin mengenalkan Bu Nur kepada Pipit. Bu Nur ini orang yang bijak, pasti Pipit akan senang berkenalan dengan Bu Nur. Kalau misal kita hanya ngomong Bu Nur orang yang bijak, itu akan pendek sekali.
Kita bisa menuliskan begini:
Edi ingin memperkenalkan Pipit pada Bu Nur. Bu Nur adalah sosok perempuan berusia sekitar setengah abad. Dari tampilannya, dia adalah seorang muslimah yang taat. Dia memakai jilbab dan selalu berbicara dengan bahasa yang halus. Tatapan matanya juga teduh. Setiap kali teman-temannya punya masalah, dia selalu dijadikan tempat bertanya. Bahkan, Edi tak terhitung berapakali dia berkonsultasi saat menghadapi permasalahan di tempat kerjanya. Karena itulah, Edi yakin bahwa Bu Nur adalah sosok yang tepat bagi Pipit untuk memecahkan permasalahanannya.
Nah, lihat, kata sifatnya Bu Nur bijak tadi diperpanjang dengan pandangan orang lain terhadap Bu Nur. Ini baru satu cara saja menggambarkan sikap Bu Nur. Sikap Bu Nur yang bijak digambarkan dengan pandangan si Edi.

Namun, kita juga bisa membuat gambaran watak tokoh dengan menggambarkan seting tempatnya.
Misal:
Edi sosok pria yang sembrono. Hal itu membuat pasangannya sering marah-marah.
Kata sembrono akan diperluas menjadi satu paragraf.
Sikap Edi seringkali membuat pasangannya marah-marah. Bayangkan, dia pernah berjanji, dia akan menjemput kekasihnya pukul 10.00 pagi. Makanya, Si Arini sudah sejak jam setengah 10.00 sudah menunggu di tempat yang dijanjikan. Namun, sampai jam 10.00, Edi tak muncul juga.  Tak hanya itu. Telepon tidak. SMS tidak. Arini meneleponnya berulang-ulang. Apa yang terjadi. Sampai akhirnya kemudian Arini pulang. Ternyata, Edi lupa dengan janjinya. Dan bahkan yang lebih parah lagi, dia lupa meletakkan dimana HP-nya. Baru keesokan harinya, dia menemukan HP-nya dan dia minta maaf pada Arini. Pernah juga, Edi meninggal janji pada pimpinannya untuk menyelesaikan tugas dan tugas itu harus dipresentasikan dari pimpinan dari pusat. Ternyata, apa, Edi lupa bahwa hari itu dia harus bertemua. Dia malah pergi keluar kota. Sikap sembrono Edi itulah yang membuat teman-temannya, terutama pasangannya tidak suka.
c.     Memperjelas seting tempat dengan detail.
Misal:
Pipit mengajak Edy dan Sofi makan malam di rumah makan Nikmat. Mereka makan malam sambil berbincang-bincang.
Rumah makan nikmatnya didetailkan ya, dari mejanya, seragam pegawainya, cara pegawainya menyajikan makanan, menu makanannya, musiknya, lampunya. Cara itu sudah bisa nambah dua paragraf.
Bahkan semisal nanti Sofi bilang:
"Waaah ikan gorengnya kriuk banget."
Bisa saja ditambah begini.
Mendengar kalimat spontan Sofi, Edi langsung terbayang anak pertamanya yang sangat doyan ikan goreng. Sikap Sofi barusan persis seperti cara anaknya saat ketemu makanan kesukaannya

10.   Bagaimana membuat kalimat pembuka yg membuat pembaca tertarik sampai ingin terus menerus membaca hingga habis?
Usahakan pembaca tergoda membaca novel kita dari awal. Ada beberapa cara antara lain:
a.       Mulai menampilkan cerpen atau novel kita pada bagian-bagian yang menarik dan wow (kalau dalam film dikenal dengan istilah trailer). Munculkan bagian yang menarik dan menggoda. Bukan dimulai dengan:
Pada suatu hari di sebuah desanoooooo. Itu akan sangat membosankan sekali, itu gaya lama.
Gaya sekarang adalah dimulai dengan adanya percikan-percikan konflik. Jadi orang membaca sudah tertarik.
b.      Tampilkan sesuatu pernyataan sikap yang beda dengan pandangan orang lain.
Misal:
Pada novel SERIBU MUSIM MERINDUIMU. Sejak awal sudah ada cerita bahwa si tokoh aku mencintai seorang laki-laki yang sudah punya suami. Dan tokoh itu tidak merasa bersalah, dia kukuh. Jadi kita akan membuat pembaca langsung marah, empati, atau suka. Atau kalau mau sejak di awal ditampilkan tokoh cantik banget atau menderita banget. Jadi langsung ambil hatinya, jangan lamban. Novel-novel yang melelahkan adalah novel yang lamban akan membuat orang capek. Atau kalau memang maunya main kekuatan seting seperti novel-novel Andrea Hirarata seperti novel LASKAR PELANGI kuatnya ada di seting, seting tempatnya, seting tanamannya, seting masyarakatnya. Silakan, karena itu ada pembaca sendiri. Banyak pembaca yang punya model-model kesukaan seperti itu. Jadi memang agak ribet, tidak bisa kita pilihan A, B, atau C karena tergantung sasaran baca yang akan kita tembak. 
Contoh:
a.     Novel ibu-ibu atau untuk perempuan: tampilkan hal-hal yang penuh
      perasaan dan romantis di awal.
b.    Novel horor, tampilkan di awal sudah ada ketegangan-ketegangan.

11.   Bagaimana dalam dialog yang ada jeda kemudian bersambung lagi dialog oleh tokoh yg sama supaya ceritanya hidup?
Penokohan dari keterangan tempat, misalnya:
Ada siswa SMA yang sering tidak masuk sekolah. Kemudian wali kelasnya datang ke rumah kemudian menanyakan apa yang terjadi pada Edi yang sering tidak masuk sekolah. Ibunya hanya menangis.
Dia kemudian berkata, “Ayo Bu, saya ajak Ibu. Saya tunjukkan kamar Edi.” Kemudian dia mengajak ke kamar Edi. Di kamar Edi ditemukan beberapa celana Edi tergelak di atas Kasur dan berbau. Di kolong Kasur ada kaos kaki yang sudah menggulung-gulung. Buku-bukunya berserakan di meja. Di dinding-dinding tertempel poster-poster penyanyi musik cadas yang rambutnya panjang. Ada juga poster yang bergambar minuman keras.
Ibunya hanya berkata, “Ya, beginilah Bu, Edi. Saya bisa bagaimana? Sudah berulangkali saya nasehati dia, tapi saya tidak sanggup, Bu. Maafkan saya.”
Sekarang Bapak Ibu bisa menyimpulkan bagaimana watak Edi dilihat dari gambaran seting tempatnya.

12.   Bagaimana dalam dialog yang ada jeda kemudian bersambung lagi dialog oleh tokoh yang sama supaya ceritanya hidup?
Misal ada anak dan ibu kemudian ibunya mengingatkan anaknya untuk mengerjakan PR. Misal nama anaknya Pipit.
“Pit, sudah mengerjakan PR?” tanya ibu. Pipit tak menjawab, dia hanya diam saja.
“Lho, ditanya kok gak menjawab. PR-nya sudah dikerjakan belum?” tanya ibu dengan suara yang semakin meninggi.
“Nanti aja,” jawab Pipit tanpa menoleh.
“Lho, sekarang, nanti waktunya habis. Itu kan waktunya tugas daringmu dari jam 8 sampai jam 3 sore. Ini sudah hampir jam 3 lho,” kata ibu lagi sambil mematikan TV yang sedang ditonton oleh Pipit.
“Ayo, segera. Mana yang kamu belum bisa?” tanya ibu sedikit emosi.

13.   Bagaimana menghadirkan beberapa tokoh yg berbeda sehingga dialog terasa hidup. Tokoh tidak hanya dialog berdua saja tetapi ada tokoh-tokoh yang dihadirkan dan hidup karakternya?
Contoh:
 “Sudah jam lima, sebentar lagi kereta tiba,” kata Dewi tanpa menutupi rasa cemas yang tampak jelas di wajahnya.
“Iya, kan masih 15 menit lagi. Sabar kenapa?” sahut Edy sambil tetap melanjutkan makan kacang goreng.
“Hhhhh,” dengus Dewi. “Lima belas menit itu singkat. Kita belum check inn lagi. Din, tolong dong ditelpon lagi.”
“Telpon aja sendiri. Nanggung nih,” jawab Dini sambil terus main game di HP-nya.
“Gimana sih kalian ini? Kok gak ada yang peduli. Kalau gini caranya aku masuk duluan. Biarin saja Anita gak jadi berangkat.” Dengan tak sabar Dewi menyeret kopernya menuju meja check inn.
Tanpa banyak kata Edy langsung mengikuti langkah Dewi. Dini hanya mengangkat bahu sambil menengok ke arah pintu kedatangan. Dari jauh ia melihat Anita berjalan tergopoh-gopoh.
Sambil melambaikan tangannya, ia menarik kopernya, mengikuti jejak Dewi dan Edy.
Ada lima orang. Wataknya beda-beda. Kita bisa menggambarkan watak tokohnya dari dialog dan tindakan yang menyertai dialognya. Jadi bukan sekadar dialog dengan penjelasan kata si A, jawab si B, sahut si C. Itu GARING banget

14.  Terkadang dalam mngembangkn ide tulisan, di tengah jalan kita mendapat imajinasi baru yg bisa menambah alur cerita sehingga mempengaruhi alur cerita sebelumnya. Yang jadi pertanyaan, sejauh mn kita mengskomodasi imsjinasi baru itu agar tulisan kita tetap bisa selesai dalam waktu yang telah kita rencankan
Jangan terlalu bebas, kalau naskah kita sendiri, tidak terikat kontrak atau dinas. Lebih baik memuaskan imajinasi jika membuat novel. Istilahnya, kalau belum maksimal sedihnya, mana mungkin pembaca akan terlarut sedih dalam cerita kita. Kalau belum menyakiti tokoh dengan sangat sakit, dengan sangat kejam, bagaimana pembaca akan marah pada tokoh ktia. Sebaiknya untuk penulis pemula, taatlah pada outline. Bila tidak percayalah 80% novel Anda sulit jadi karena imajinasi kita akan berkembang terus ketika kita sudah masuk dunia kepenulisan.

NOTE:
Tidak setiap karya yang bagus rejeki diiringi uangnya yang bagus juga. Banyak sekali buku-buku karya sastrawan secara sastra, tetapi laris manis dari segi keuangannya tidak selaris manis novel-novel popular lainnya. Semua itu tergantung pada selera pasar. Kalau mau menulis yang aman kita harus menentukan pangsa pasar kita. Tapi pesan saya menulislah dengan gaya gue sehingga orang tahu persis. Masing-masing orang punya gaya sendiri, berangkat dari pengalaman hidup jadikan seting, gambaran cerita, tambahannya tapi alur cerita tetap harus fiksi.



Komentar

Nuraeni pasti bisa mengatakan…

Masya Allah Tabarakallah
Hebat banget
Tulisannya sangat informatif
Makasih Mas Bagus Anak Hebatku dari Tembilahan
bhp riau mengatakan…
Wah ini rangkuman yang dibuat bu Pipit bunda. Saya hanya meneruskan agar bermanfaat bagi banyak orang