MENGGUGAT TUHAN (STEP 2)


"Bukan Nenek tidak mau menjawab pertanyaanmu Cu." Ucap Nek hanya dalam pikiran. "Nek tidak sanggup untuk menceritakan apa yang terjadi pada kehidupan Ayah dan Ibumu. Nek yakin dan percaya kau pun tak akan sanggup menerima kenyataan yang begitu pahit tersebut." dada Nek semakin sesak. Butiran bening akhirnya pun jatuh ke bumi. Diusapnya setiap tetesan bening yang semakin merembes di pipinya.

Semakin ia ingin menjawab, lidahnya semakin kelu untuk mengatakannya. Pikirannya kembali mengenang kisah yang sudah berpuluh tahun di kuburnya dari memori kehidupan Cucunya. Ia sudah berjanji dalam dirinya akan menceritakan kebenaran yang terjadi dalam perjalanan kisah Cucunya. Tetapi masih menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan fakta kepahitan itu.

Ketika tak satu pun jawaban bisa di dapatkan oleh Wira. Hanya pikirannya yang semakin berkecamuk bahkan ia menyesal menanyakan apa yang terjadi kepada Neneknya. Ia sadar sedari kecil hanya Neneknya lah menjadi tumpuan dan sandaran kehidupannya. Segala kebutuhannya Neneklah saru-satunya tempat ia meminta. Neneklah malaikat penolongnya ketika ia terlahir tanpa kesempurnaan. Bahkan kelahiran yang tidak diharapkan untuk melihat dunia.

Wira menyesali pertanyaannya membuat Neneknya sedih. Tatapan yang awalnya penuh dengan semangat seketika berubah dengan kesedihan. Senyuman itu pun sama, hilang seketika. Ia sebenarnya sulit memahami dan memaknai setiap bahasa isyarat tubuh dari Neneknya. Namun yang ia rasakan adalak ekspresi kesedihan itu menusuk qalbunya.

Ia terlalu dini untuk memahami kerumitan orang dewasa dalam menjalani kehidupan. Baginya saat ini adalah tahu apa yang terjadi dalam kehidupan keluarganya. Misteri itu sudah sekian kali mengusik hatinya. Pikirannya pun semakin kacau jika seriap saat ada saja bisikan tersebut.

Anak berusia 15 tahun itu pun mencoba menjalani hidup yang tak lengkap. Bukan saja ketidaklengkapan tanpa Ayah dan Ibu, tetapi kisah yang terbangun yang belum tahu ia apa rahasia yang tersimpan berpuluh tahun tersebut dari kehidupannya.

"Nek.. maafkan Wira, Nek. Tidak ada maksud membuat Nek sedih. Tetapi Wira hanya ingin tahu saja. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Ayah dan Ibu Wira?. Hanya itu yang menjadi pertanyaanku."

***BERSAMBUNG***


Komentar