MEMBANGKITKAN MOTIVASI MENULIS DAN STRATEGI MENULIS YANG BERKUALITAS

Sumber Gambar : Internet

Menulis bagi sebagian orang menjadi momok yang menakutkan, sulit harus dimulai dari mana, bagaimana merangkai setiap kata yang akan dijadikan kalimat agar setiap tulisan mudah dicerna, enak dibaca, dan tidak bertele-tele. "Pokoknya jika sudah berhadapan dengan menulis rasanya sulit banget," ucap Rere. "Ide banyak berseliwiran di kepala, tetapi saat dihadapkan harus menulis langsung mati kutu." Ujar Wita lagi. Beda lagi dengan Anton "Menulis baginya tidak tahu harus dimulai dari mana. Setiap mau memulai menulis kata apa yang tepat hingga tidak bergerak, meskipun hanya satu kalimat." 

Masalah di atas sangat banyak dihadapi oleh para penulis pemula dalam menuangkan idenya agar mampu merangkai kata yang tepat menjadi sebuah kalimat sampai menjadi sebuah paragraf. Untuk itulah tepatnya tanggal 7 Maret 2020 group Workshop Perlindungan Guru mengangkat sebuah tema diskusi "Membangkitkan Motivasi Menulis dan Strategi Menulis yang Berkualitas" dengan narasumber Eko Prasetyo selaku pemimpin redaksi Media Guru. 

Diskusi dimulai dengan pemaparan oleh narasumber bahwa guru berprestasi dan para finalis Inobel punya andil besar untuk memajukan Indonesia. Mereka berasal dari berbagai daerah. Di antara mereka, juga ada yang diberi kesempatan untuk short course ke luar negeri. Mereka ibarat mata bagi para kompatriotnya sesama guru. Maksudnya? Iya, andai mereka menceritakan segudang pengalaman hebat sebagai gupres dan guru inovatif kepada para koleganya, hal ini sangat bermanfaat. 

Melalui apa? Salah satunya melalui pintu literasi menulis. Menceritakan banyak hal hebat yang pernah Anda lakukan lewat buku adalah upaya yang ampuh untuk menunjukkan bahwa di Nusantara masih banyak orang kreatif lewat pengabdiannya di bidang pendidikan. 

Contohnya, apabila ada guru dari daerah 3T menceritakan pengalaman heroiknya tentang beratnya medan pengabdian, tentu ini bisa mengubah cara pandang masyarakat luas. Juga bisa mengubah kebijakan pemerintah. 

Ceritakan lewat buku. Biarkan Indonesia tahu prestasi dan perjuangan Anda sebagai insan-insan hebat di bidang pendidikan. Tuhan bersama kita. Tentu saja, menulis yang dimaksud di sini bukan melulu tulisan ilmiah. Sebab, jika kita mau jujur pada diri sendiri, tulisan ini itu membuat mata letih dan semangat lesu. Menulis yang dimaksud di sini adalah tulisan bercerita. Kisahkan apa adanya perjuangan Anda, prestasi Anda, kiprah Anda, dan bagaimana Anda mendampingi anak-anak yang kelak memimpin bangsa ini. Andai ada satu anak dan satu orang yang terinspirasi dari tulisan Anda, Anda sudah mengubah semangat mereka berlipat-lipat untuk bisa mengikuti jejak Anda. Malaikat pun sudah mencatatnya sebagai amal kebaikan Anda. Itulah mengapa, guru memang manusia mulia yang layak mendapat kapling surga…

Dari pemaparan awal saja setiap kalimat yang dituliskan oleh narasumber sangat enak dibaca dan menginspirasi setiap pembaca untuk mau menggali potensi dan semangat menulis menebarkan kebaikan. 

Berikut beberapa pertanyaanbeserta jawaban :

1. Apa yang menjadi indikator sebuah tulisan yang berkualitas?
    
Tulisan yang baik itu:
- mudah dipahami pesannya
- lugas, tidak bertele-tele 
- tema yang sebenarnya berat bisa dibuat sederhana sehingga dapat ditangkap oleh pembaca
- menggerakkan dan memotivasi pembacanya
- memberikan pengalaman baru bagi pembacanya
- tidak menggurui
- tidak menonjolkan kehebatan diri sendiri, tetapi lebih memberikan cakrawala baru bagi pembacanya

2. Tulisan  bercerita  maksdy  gm pak bagus,   bgm memulainya. Apa ada urutan cr penulisnya?

Pada dasarnya, tulisan itu terdiri atas gaya artikel (bahasanya ilmiah), gaya opini (bahasanya ilmiah populer), dan kolom/esai (bahasanya populer). Kolom atau esai itulah yang merupakan gaya tulisan bercerita. Ia mengalir tanpa terkungkung oleh sistematika pedoman penulisan seperti gaya tulisan ilmiah. Ia tidak kaku. Ia luwes. Tentu saja tulisan bercerita itu lebih enak dibaca. 

Contoh kolom dengan gaya tulisan bercerita seperti di bawah ini.

”Saya baru lima tahun mengabdi di perbatasan Malaysia Timur dan Kalbar ini. Luar biasa berat tantangan yang saya hadapi. Rendahnya semangat bersekolah siswa, itu hanya salah satunya. Tantangan lainnya adalah infrastruktur yang belum memadai. Belum lagi saya harus menemui benteng kokoh: sukarnya sinyal internet di sini. Untungnya, ada yang menguatkan saya. Yaitu dua perempuan cantik yang segera menjadi istri saya.”

3. Bagaimana cara nya untuk meminimalisir typo dalam menulis , serta motifasi mas eko dalam menulis sehingga mampu menulis 80 buku se jauh ini ?

Tidak ada kata meminimalisir dalam bahasa Indonesia. Yang betul itu meminimalkan. Agar tidak terjadi kesalahan ketik ketika menulis (typo), biasanya selalu membaca kembali tulisan setelah dibuat. Kemudian lakukan self-editing (mengedit tulisan diri sendiri) atau re-write (memperbaiki tulisan) agar tak terjadi typo. Saya menulis 80 buku itu tidak ujug-ujug. Saya menekuni dunia ini sejak 17 tahun silam. Sebab, saya merasa bahwa panggilan jiwa saya adalah mendidik (edukasi) dan menulis (literasi). Saya melakukan semua itu sepenuh hati dan tak ada keluhan. Jika segala sesuatu kita lakukan karena rasa cinta, insyaallah hasilnya juga menyenangkan. So, kuncinya: Jangan lupa bahagia.

4. Melalui pengamatan sehari-hari, ide itu sering muncul, tapi mengapa masih susah merangkainya menjadi tulisan?

Wajar jika kita kadang merasa sulit merangkai aksara. Beban tugas di sekolah, anak rewel, kepala sekolah banyak menuntut, teman iri pada kita, dan istri minta tambahan uang belanja adalah sedikit faktor yang bisa menghambat mood kita ketika menulis. Kuncinya : banyak membaca. Dengan banyak membaca, kita memiliki banyak kosa kata. Dengan banyak kosa kata, kita tidak akan kehabisan bensin untuk merangkai aksara itu sendiri. 

Yang terpenting, jangan takut salah. Bangun kepercayaan diri ketika menulis. Juga jangan alergi ketika tulisan kita diberi masukan oleh orang lain.

5. Bagaimana menuliskan pengalaman saya dan pembelajaran yang sering dilakukan, karena selama ini saya hanya share di group. Namun untuk membuat cerita dalam bentuk tulisan agak susah memulai. Bagaimana kiatnya biar PD dan termotivasi menuangkan dalam tulisan?

Kepercayaan diri itu perlu dibangun secara terus-menerus. Cara yang paling sederhana sudah Ibu lakukan, yaitu membagikan tulisan itu ke grup WA atau akun medsos lainnya. Dari situ, kita tentu mendapat feed back berupa komentar dan masukan terhadap isi tulisan. Inilah yang kita perlukan. 

Jangan lupa pula untuk terus meng-upgrade pengetahuan kita dengan membaca isu-isu terkini di dunia pendidikan dan buku-buku yang sesuai dengan passion kita. Sebab, tidak pede itu terjadi salah satunya karena kita merasa kudet (kurang update). 

6. Terkadang ide menulis itu bermunculan dan secara tiba-tiba saja, biasanya saya  lebih sering dituangkan ke dalam bentuk puisi (meskipun mungkin diksinya tak sebagus diksi). Bagaimana cara atau strategi dalam memulai menulis, karena yang saya rasakan agak sulit itu memulainya?

Menulis itu kuncinya ada pada diksi (pilihan kata). Sementara diksi itu bisa diperkaya dengan memperbanyak membaca. Jadi, kuncinya simpel: membaca. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik pula. 

7. Saya sangat ingin bisa menulis, menceritakan pengalaman dan lain sebagainya. Tetapi ketika saya baru menulis beberapa paragraf saya jadi tidak pede, tulisan saya tidak bagus. Seperti menulis di buku harian anak SD. Oleh karena itu, tulisan saya dalam bentuk cerita tidak pernah rampung. Pertanyaannya, apakah yang harus saya lakukan dengan keadaan demikian?

Kita bisa menulis sebuah novel yang bagus jika kita sering membaca novel yang bagus. 
Kita bisa menyusun PTK yang baik bila kita sering membaca PTK yang baik pula. 
Kita dapat menulis cerita anak yang baik kalau kita sering membaca cerita anak yang baik. 

Saran saya, ikuti pelatihan menulis jika ada. Jalin komunikasi dengan banyak berjejaring bersama para guru di komunitas-komunitas menulis. Silakan pula berkonsultasi dengan teman yang lebih berpengalaman untuk mendapatkan masukan-masukan. 

Jangan lelah belajar.
Jangan letih menginspirasi.
Jangan berhenti karena menyerah itu berarti kalah.

8. Saya merasa di diskriminasi dari SD karena berambut panjang, jika itu saya buat sebagai tulisan yang saya kaitkan dengan tujuan pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan argumentasi rambut panjang tak berbengaruh terhadap pendidikan apakah itu layak sebagai tulisan?

Tentu saja layak, Pak. 

Namun, kita harus mengemasnya secara halus agar tidak menyinggung pihak-pihak tertentu.

10. Untuk penulis pemula buku apa saja yang sebaiknya dibaca agar tulisan lebih tertata?

Carilah buku populer yang sesuai dg minat dan bidang kita. Bisa pula membaca buku-buku biografi inspiratif tokoh tertentu, buku motivasi, dan buku lainnya.

11. Bagaimana cara menghilangakan, mindset guru bahwa menulis itu membosankan dan untuk membuat karya tulispun kadang main upah?

Mindset seperti itu terbangun karena menulis itu acap diidentikkan dg karya ilmiah. Buatlah menulis sbg aktivitas yang menyenangkan karena kita bisa berbagi pengalaman yang bermanfaat bagi orang lain.

***

Intinya menulis jangan pernah bosan dan putus asa, apalagi dengan masukan dan kritikan. Seorang penulis kadang akan berhenti menulis ketika dikritik, tidak dikomentari oleh teman, diremehkan, dikerdilkan. 

Inilah yang banyak terjadi. 

Untuk menjadi seorang pemenang tentu tidak mudah. Apalagi menjadi penulis yang hebat butuh mental juara. Menulislah apa yang ingin dituliskan. Jangan terlalu memikirkan apa yang oranglain pikirkan.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Artinya akan ada hasilnya. 
Menjadi penulis itu ibarat mempersiapkan segala amunisi berjuang.

KESIMPULAN

1. Setiap kita punya andil besar dalam menebarkan banyak kebaikan terutama dalam menuliskan pengalaman.

2. Guru berprestasi, inobel, dan prestasi lainnya memiliki kekuatan dan pengalaman untuk bisa berbagi dan menginspirasi dengan tulisan.

3. Ceritakan semua lewat tulisan pengalaman berharga dan prestasi.

4. Dengan tulisan kita mengambil peran memperbaiki Indonesia menjadi lebih baik melalui kreatifitas pemikiran.

5. Guru adalah manusia mulia yang mampu menginspirasi banyak orang dengan pemikiran dan aktivitasnya sehingga daya kreativitasnya mampu menggerakkan oranglain (siswa-siswanya).

6.  Tulisan yang baik :
tulisan yang baik itu:
mudah dipahami, lugas, tidak bertele-tele, tema yang sebenarnya berat bisa dibuat sederhana, menggerakkan, memotivasi, memberikan pengalaman baru, tidak menggurui, tidak menonjolkan kehebatan diri sendiri, tetapi lebih memberikan cakrawala baru bagi pembacanya.

7. Tulisan bercerita tentu tidaklah kaku tetapi luwes dan fleksibel. Mudah dipahami dan enak dibaca sehingga pembaca merasa nyaman dan menimati jalannya cerita.

8. Agar tidak typo (terjadi kesalahan ketik ketika menulis : baca kembali tulisan dibuat. Lakukan self-editing (mengedit tulisan diri sendiri) atau re-write (memperbaiki tulisan) agar tak terjadi typo.

9. Bagaimana merangkai kata menjadi tulisan : Banyak membaca. Dengan banyak membaca, kita memiliki banyak kosa kata. Dengan banyak kosa kata, kita tidak akan kehabisan bensin untuk merangkai aksara itu sendiri. "Jangan Takut Salah". Bangun kepercayan dan jangan anti dengan masukan orang lain.

10. Upgrade terus pengetahuan agar menjadi bekal dalam menulis. 

11. Share tulisan yang sudah dibuat di medsos. Jangan takut dengan komentar oranglain apakah kritikan atau saran.

12. . Menulis itu kuncinya adalah diksi (pilihan kata). Perbanyak diksi dengan banyak membaca. 

13. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

14. Perbanyak membaca buku referensi sesuai dengan tema yang ingin ditulis. Misal jika ingin menulis novel, seringlah baca novel-novel yang nantinya akan menginspirasi tulisan.

15. Meningkatkan semangat dan kualutas menulis adalah dengna mengikuti pelatihan menulis. Ikuti komunitas guru-guru dalam menulis baik offline maupun group online.

16. Setiap tulisan layak dibuat, tinggal bagaimana seorang penulis mengemasnya dengan halus dan enak dibaca.


Komentar