HALALKAN AKU DENGAN KERJA KERASMU

Hasil gambar untuk sertifikat

"Sertifikatnya berapa jam?"
"Boleh nggak mengikuti kegiatan tidak full tetapi dapat sertifkat?"
"Ku mau sertifikat saja, bayar pun nggak apa-apa."
"Masa hanya untuk sertifikat saja susah harus ada tugas mandiri!"
"Ku pinjam sertifikat kamu sajanya. Tinggal copy."

Kalimat di atas sering kita dengar bahkan sudah menjadi kebiasaan ada sebagian oknum melakukan hal tersebut. Baik untuk mendapatkan angka kredit dalam pengurusan pangkat ataupun untuk hal lainnya. Pekerjaan dengan hasil yang instan tanpa mau bersusah payah untuk melalui prosesnya. Permasalahan ini bukanlah hal yang biasa dalam dunia pendidikan, justru permasalahan ini adalah salah satu masalah yang sangat urgensi dan harus diperbaiki kondisi iklim pendidikan.

Bukan hal yang baru lagi jika setiap pengurusan kenaikan pangkat banyak guru bergelya mencari berbagai sertifikat dengan hanya mengubah "nama" saja semua beres. Padahal jika dievaluasi atas tindakan yang dilakukan tentu ini pasti salah. Karakter dan mindset tidak serta merta juga terbangun dengan sendirinya. Tetapi ada oknum yang bermain disetiap penilaian dan pelaksanaan kegiatan. Mereka dengan gampang mengeluarkan hanya karena urusan "uang" semua bisa diselesaikan.

Sampai saat ini kondisi ini masih banyak diterapkan oleh oknum guru dalam mencapai tujuannya. Padahal jika berkiblat pada tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sangat jelas tertulis di dalam tujuan tersebut. Mengembangkan "potensi" sementara sang pendidik tidak ikut mengembangkan kemampuannya untuk bisa menjadi bagian dari mencapai tujuan tersebut. Menjadi "manusia yang beriman dan bertaqwa" tentunya perilaku yang gampang dan mencari jalan instan bukanlah perilaku yang beriman. Apalagi "bertanggungjawab" tentu sikap tersebut sangat jauh dari kata-kata bertanggungjawab. Bagaimana mungkin mendidik dan membentuk karakter siswa untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sementara masih ada oknum yang melakukan tindakan menghalalkan segala cara hanya ingin mencapai tujuan semata. 

Tulisan ini sebagai evaluasi diri khususnya saya sebagai pendidik untuk bisa memperhatikan rambu-rambu yang tepat dengan tidak melakukan sebuah tindakan yang dinilai sebagai bagian dari proses "pembodohan" diri agar selalu berada dalam zona nyaman. Masih teringat saya saat mengikuti berbagai kegiatan, berawal dari keiinginan dan semangat yang kuat untuk membangun dan menggali potensi diri khususnya haus akan ilmu. Jarak yang jauh, waktu yang cukup panjang, biaya yang mahal hanya untuk belajar menimba ilmu dari guru-guru hebat tanah air. Semua dilalui dengan proses yang panjang. Untungnya mengikuti kegiatan niat yang terbangun bukan untuk "sertifikat" tetapi ilmu yang harus didapatkan. Maka sertifikat pun akan didapatkan sebagai bonus dari apa yang sudah dikerjakan. Beruntung dalam kegiatan tersebut "dipaksa" untuk membuat tugas mandiri dengan waktu penyelesaian yang sudah ditentukan. Kondisi inilah yang menjadi semangat dan berusaha untuk menyelesaikan tugas tepat waktu. 

Ternyata jika ada niat dan kemauannya yang kuat bisa dilakukan dan selesai dengan tepat waktu. Step by step mengubah mindset untuk memperbaiki kondisi diri adalah sebuah keharusan yang harus dilakukan oleh setiap orang. Apalagi sebagai seorang pendidik tentu ini menjadi cambuk dan intropeksi diri dengan apa yang dilakukan dan ilmu teori yang didapatkan harus sejalan. 
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra'd:11)

Kata-kata Allah yang sangat indah jika setiap diri mencoba untuk membuka pikiran dan hati bahwasanya inilah kalimat motivasi yang terbaik yang pernah ada.

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan," (QS Ash-Sharh 94-6)

Maka sudah menjadi kewajiban yang terkait dengan pengembangan diri harus dilakukan dengan cara yang benar dan tepat bukan mencari jalan dengan cara yang instan. Semua proses itu harus dilewati, bukankah disetiap kesulitan ada kemudahan. Kondisi inilah yang harus dilakukan oleh setiap guru bahu membahu memulai dari diri sendiri dan melalui dari organisasi profesi untuk menuntaskan dan membangun kesadaran bahwa guru harus bisa dan bermarwah dengan integritas yang baik. Sehingga ke depan tidak akan ada lagi kata-kata "Pak, copy dong sertifkatnya, Bu, berapa mengikuti kegiatan pelatihan saya bayarnya. Saya tidak bisa hadir kegiatan." 

Tidak mungkin seorang guru tidak mampu membuat jika sudah mencoba dengan kerja keras, bagaimana bisa dia mendapatkan gelar sarjana S1, jika skripsinya tidak tuntas. Berbeda jika tugas akhir tersebut juga ia upahkan. Jadi jangan heran jika itu akan berimbas dengan saat ini. Tetapi intinya semua bisa dicoba dan diubah jika ada niat dan kemauan yang kuat untuk melakukannya. "Tidak ada yang tidak mungkin, jika semua amunisi dan semangat sudah dilakukan". Terakhir lihatlah wajah anak-anakmu yang hidup dari setiap tetesan keringat dan capekmu. Kemudian disuguhi dengan sesuatu rezeki yang bukan jalan yang benar.

Salam semangat 


Komentar