DUA PULUH SATU TAHUN USIAMU

Dokumen Gambar dari Internet

Terlahir dari keluarga besar tentu sangat membahagiakan, jika keluarga yang terbentuk harmonis dan saling merasakan kasih sayang satu dengan lainnya. Aku adalah anak bungsu dari enam bersaudara terdiri dari tiga laki-laki dan empat perempuan. Banyak yang mengatakan di posisi anak bungsu adalah posisi yang paling menyenangkan karena mendapatkan limpahan kasih sayang dan perhatian yang penuh. Bahkan sebagian orang mengatakan anak bungsu selalu diikutkan kemauannya. tetapi tidak denganku, karena apa yang oranglain pikirkan sangat jauh yang terjadi dengan kehidupanku.

Tetapi aku merasa beruntung memiliki seorang kakak yang bagiku sangat luar biasa perhatian. Tutur katanya yang ramah dan sifatnya yang lembut membuat setiap orang menyukainya. Beruntung aku sebagai adiknya sangat senang dengan karakter kakakku yang super baik. Ya mengingat masa itu aku sangat bahagia dengan kehidupan yang Allah berikan meskipun kehidupanku biasa saja tidak seperti anak-anak umumnya. Tetapi memiliki kakak yang perhatianlah yang membuat hidupku penuh dengan keceriaan.

Ya, kakakku bernama Rindiani, biasa ia disapa dengan Ani, sosok yang kalem dan pendiam namun punya perhatian dan peduli dengan oranglain. Itu yang membedakan karakternya dengan wanita yang biasa kukenal. Matanya yang sipit dan berkulit putih tidak seperti diriku yang berlulit hitam. Tetapi itulah justru yang membuat warna kehidupan kami berbeda. Aku seorang yang sangat peduli dengan pendidikan, tetapi kakakku sosok yang lebih memilih bekerja selesai di tingkat atas.

Pernah suatu kejadian unik terjadi dalam kehidupan kami, saat itu kakakku menjaga warung kemudian ada Ibu-Ibu yang datang meminjam uang jualan, dan kakakku berbaik hati memberikan uang hasil jualan tanpa memberitahu ibu terlebih dahulu. Aku pun diam dan membiarkan tindakan yang ia lakukan. Ada kesedihan ketika melihat Ibu yang meminjam uang tersebut sehingga aku hanya bisa diam tanpa melaporkan tindakan kakakku pada orang tuaku.

Peristiwa itu benar-benar memberikan pelajaran yang berharga dalam hidupku. Aku melihat ada sisi kepeduliaan yang tinggi yang dimiliki oleh kakakku. Ia pribadi yang sering mengalah jika berkelahi dengan adek-adeknya. Sifatnya yang dewasa membuatnya sering tidak melawan. Pernah suatu peristiwa besar terjadi saat itu, sosok wanita yang aku kagumi ini mendadak pingsan dan harus dilarikan ke Rumah Sakit, saat itu aku benar-benar merasa ketakutan akan apa yang terjadi dengan kakakku. Alhamdullillah Allah masih menyelamatkannya. Ia hanya kecapekan saja.

Sosoknya memang sangat penurut dengan apa yang disampaikan oleh Ibu, ia tidak pernah membantah. Selalu ia ikuti, kalaupun ia diam saja jika dimarahi.

Catatan kepribadiannya sangat membekas dalam pikiranku akan sosoknya yang lembut dan memgayomi adek-adeknya. Saat ia memutuskan ingin bekerja di daerah lain, ada rasa sedih yang tiba-tiba kurasakan. Ku tatap wajahnya sangat lama. Tahi lalat di bawah kelopak matanya menjadi ciri khas dirinya memberi kesan yang menarik bagi dirinya.

"Kak, kenapa harus ke luar kota kerjanya?. Apakah di sini tidak bisa ?" Ucapku dengan ekspresi wajah sedih yang tak bisa kusembunyikan. Bahkan saat itu aku berharap ekspresi wajahku akan menghentikan langkahnya. Tetapi ternyata tidak.

"Tidak bisa adekku, karena di sini belum ada perusahaan yang bisa menampung kak dengan gaji yang sesuai. Sementara di daerah sana, bisa memberikan upah yang sesuai dengan tenaga yang kita keluarkan," jawabnya dengan wajah tersenyum. Tanganku pun diraih kakakku, "Ingat pesan kak, jangan nakal dan belajar yang rajin. Bantu Ibu, jangan malas," ucapnya lagi agar dengan serius dan tatapannya sangat terasa.

Aku pun tak bisa menghentikan langkah kaki kakakku, termasuk Ibuku juga hanya bisa pasrah dan memberikan do'a yang terbaik untuk anaknya.

"Nak, di sana kamu baik-baik saja. Benar-benar bekerja jangan macam-macam. Jaga shalat dan ingat selalu Allah di mana pun kau berada." Hanya itu yang kudengar dari lisan Ibuku saat melepaskan kepergian kakakku.

Kepergian kakakku bekerja di daerah lain otomatis membuat perubahan dalam kelurga kami. Rasa sepi yang biasanya ada pertemgkaran antara aku dengan kakaku atau dengan lainnya. Selalu kakakku ini menjadi penengahnya.

Setiap tahunnya ia selalu pulang ke rumah untuk berkumpul di hari raya bersama keluarga. Namun tepatnya tahun 2001 berita mendadak aku terima via gawai yang saat itu aku masih dalam kondisi pendidilan. Informasi yang kuterima dari salah seorang keluarga dekat bahwa kakakkj dalam kondisi kritis.

Tanpa pikir panjang, aku pun langsung berangkat tanpa memperdulikan bahwa ada ujian yang harus aku ikuti saat itu. Sepanjang jalan tiba-tiba saja butiran bening jatuh dari kelopak mataku.  Saat itu langit tiba-tiba hitam pekat, bumi yang kupijak seakan runtuh dari penyangganya. Butiran bening merembes dengan cepat. Sementara pikiran dan hatiku mendadak  langsung berubah drastis. Hanya ada keinginan bisa bertemu dengannya. Pikiranku berkecamuk, banyangan ketakutan akan kepergiannya melintas tiba-tiba di depanku. Aku hanya bisa menunduk dan menutup mataku yang sudah sembab dengan kedua telapak tanganku. Tak peduli dengan orang di sekitarku saat itu memperhatikanku.

Sementara sahabatku memberikan semangat dan kekuatan kepadaku dengan memegang bahuku. Kakiku lemas, jari-jari tanganku kaku. Gawaiku berdering kembali. Kulihat panggilan tertulis nama Wanti di layarku.

"Hello kak... Aku lagi di jalan menuju Pelabuhan. Insya Allah jam 15.00-an aku sampai. Sekarang masih di dalam oplet. Ada apa kak?" Aku hanya mendengar suara isak tangis di ujung sana. Tidak ada sahutan sama sekali. Tepai aku sadar dan yakin bahwa kakakku telah pergi untuk selamanya. Air mataku pun langsung keluar deras, ku usap dengan tanganku sampai memperlihatkan basah tanganku oleh airmata. Sesegukkan aku menahan tangis yang membuat dadaku menyesak. "Ia dek, Kak Ani sudah pergi menghadap Illahi. Do'akan yang terbaik untuknya,

Pikiranku kacau, semua harapan dan mimpiku runtuh seketika. Selama ini ia membantu uang kuliahku tetapi Allah berkehendak lain. Aku pun tiba di rumah duka pukul 15.30 tepatnya di Tanjung Uma, Batam. Harapanku pupus meskipun hanya bertemu jenazahnya. Semua ternyata sudah dikuburkan tanpa menungguku. Aku duduk terkulai lemas merasakan kepedihan yang dalam. Banyangan kakakku seketika hadir di depanku. Senyuman dan tawanya seakan ia masih ada. Air mataku semakin deras dan suara tangisku pun pecah.

Duniaku gelap seketika, yang ada hanya deraian air mata mengiringi langkah yang sudah terkulai lemas. Sedikitpun tidak ada bekasnya di rumah. Semua sudah dibersihkan. Akhirnya ku putuskan langsung menuju tempat peristirahatannya. Aku hanya bisa melihat dua batu nisan yang tenpancang saling berhadapan. Hanya do'a dan lantunan ayat kusampaikan berharap Allah memberikan ampunan dan memberatkan timbangan amal baiknya. Ku usap batu nisannya tempat peristirahatannya terakhir.

"Andai saja Allah masih memberikan kesempatan untukku, aku ingin ia hidup, dan aku siap menggantikannya." Ucapku dalam hati yang lagi kalut. Di usia 21 tahun, usia muda ia pergi menghadap sang pencipta. Hanya dzikir mengiringi kepergiannya yang bisa kulakukan saat itu.  Kematiannya yang bertepatan 4 hari sebelum miladnya di tanggal 18 Maret 2001. Hari itu adalah hari di mana hatiku sangat terpukul dengan kepergiannya.

Batam adalah Kota di mana ia dikebumikan dan tempat peristirahatannya terakhir. "Selamat jalan kakakku, engkau adalah wanita yang memberikan aku banyak makna kehidupan. Alfatihah, semoga Allah menghapuskan dosa-dosamu dan diterima amal kebaikanmu," ucapku lirih dengan tetesan airmata yang tak mampu kutahan.


Komentar


  1. Hicks...hicks....beryrai air mataku membaca tulisan ini. Semoga Kakaknya Mas Bagus menjadi penghuni surga-Nya Allah.

    BalasHapus

Posting Komentar