JERITAN HATI DIKA

Hasil gambar untuk JERITAN HATI
Dika tidak pernah berharap apalagi bermimpi berada dalam keluarga yang yang harus berbagi kasih dengan wanita lain. Ia hanya bisa mendengus saat ayahnya dengan santainya mengutarakan kepada ibu untuk menikah lagi. Ia tahu bahwa tidak mungkin bisa melawan keinginan ayahnya untuk beristri lagi.
Semua dalam pikirannya hanya mumet dan terbanyang bagaimana selama ini anggapan orang terhadap kondisi tersebut. Jelas ia sendiri tidak akan mau ayahnya dimiliki oleh orang lain. Berbagi kasih sayang dengan wanita yang akan menjadi ibu keduanya tentulah bukanlah harapannya. Apalagi jika wanita tersebut memiliki anak dari ayahnya. Tentu semua mimpi yang ia harapkan akan seketika lenyap.
Lelaki berkacamata minus itu hanya mampu mendengar jeritan suara tangisan ibu saat ayah dengan angkuhnya berdebat di hadapan ibunya, bahwa Semua keinginan ibu tidak pernah ia tolak. Materi yang diminta ibu pun selalu dituruti. Tidak sekalipun ayah pernah menolak keinginan ibu. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu sangat tahu bagaimana karakter ayahnya. Ia tidak berani keluar dan mencampuri urusan ayah dan ibu. Biasanya ayah dan ibu tidak pernah membiarkan anaknya masuk dalam perdebatan orangtua sekalipun Dika tahu apa yang ia dengar sangat menyakitkan.
Terdengar suara ayah semakin keras dan meninggi.
"Lantas apa yang membuatmu tidak bisa terima?. Bukankah semua keinginanmu sudah aku penuhi. Sekalipun aku tidak pernah menolak apa yang kau inginkan. Maka izinkan aku untuk memilikinya!" Lantang suara ayah mengharapkan ibu menyetujui.
Suara sesegukan dan tangisan ibu seketika akhirnya pecah juga.
"Mas... apa yang membuatmu ingin menikah lagi?. Bukankah aku juga melayanimu dengan sebaik-baiknya sebagai seorang istri. Apa kekurangan yang ada dengan diriku!. Anak aku bisa memberikan sampai kita sudah memiliki tiga orang. Setiap hasratmu pun selalu kupenuhi meskipun aku dalam kondisi capek. Tidak sekalipun aku menolaknya. Karena aku tahu posisiku sebagai seorang istri. Aku tidak ingin dilaknat Allah ketika tidak melayanimu sebagai istri." Suara ibu sesegukan menahan sakitnya hati. Meskipun terdengar tinggi tetapi ibu masih menghormati ayah sebagai suaminya.
Ayah pun keluar membanting pintu membiarkan ibu yang menangis sesegukan di kamar sendiri. Dika hanya bisa melihat ayah menuju garasi dari balik tirai jendelanya. Ayah mengeluarkan mobil dan memacu Kendaraannya dengan cepat meninggalkan semua yang terjadi.
Dika hanya bisa menahan diri di dalam kamar tanpa bisa berbuat apapun untuk membantu ibunya. Ia pun tidak mungkin menolak keinginan ayahnya yang terkenal keras dan biasanya harus terpenuhi.

***BERSAMBUNG***

Komentar